Showing posts with label Wawasan-Islam. Show all posts
Showing posts with label Wawasan-Islam. Show all posts

Keistimewaan Bulan Ramadhan


Berikut ini 7 Keistimewaan bulan Ramadhan, yakni 
1. Puasa Ramadhan yakni rukun keempat dalam Islam. Firman Allah Ta'ala: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan asas kau berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kau supaya kau bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183).

Sabda Rasulullah s.a.w.: "Islam didirikan di atas lima sendi, iaitu: syahadat tiada sembahan yang haq selain Allah dan Muhammad yakni rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi hajike Baitul Haram." (Hadits Muttafaq 'Alaih).

Ibadah puasa merupakan salah satu sarana penting untuk mencapai takwa, dan salah satu lantaran untuk mendapatkan ampunan dosa-dosa, pelipatgandaan kebaikan, dan pengangkatan derjat. Allah telah mengakibatkan ibadah puasa khusus untuk diri-Nya dari amal-amal ibadah lainnya.

Firman Allah dalam hadits yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w.: "Puasa itu untuk-Ku dan Aku eksklusif membalasnya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, iaitu kesenangan dikala berbuka puasa dan kesenangan dikala berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau verbal orang berpuasa lebih harum daripada aroma kasturi." (Hadits Muttafaq 'Alaih).

Dan sabda Rasulullah s.a.w.: "Barangsiapa berpuasa Ramadhan kerana keyakinan dan mengharap pahala dari Allah, pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Hadits Muttafaq 'Alaih).

Maka untuk memperoleh ampunan dengan puasa Ramadhan, harus ada dua syarat berikut ini:
a. Mengimani dengan benar akan kewajipan ini.
b. Mengharap pahala kerananya di sisi Allah Ta 'ala.

2. Pada bulan Ramadhan diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi umat insan dan berisi keterangan-keterangan ihwal petunjuk dan pembeza antara yang haq dan yang bathil.
3. Pada bulan ini disunatkan shalat tarawih, yakni shalat malam pada bulan Ramadhan, untuk mengikuti jejak Rasulullah, para sobat dan Khulafaur Rasyidin.
Sabda Rasulullah s.a.w.: "Barangsiapa mendirikan shalat malam Ramadhan kerana keyakinan dan mengharap pahala (dari Allah) pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Hadits Muttafaq 'Alaih).
4. Pada bulan ini terdapat Lailatul Qadar (malam mulia), iaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, atau sama dengan 83 tahun 4 bulan. Malam di mana pintu-pintu langit dibukakan, do'a dikabulkan, dan segala takdir yang terjadi pada tahun itu ditentukan.

Sabda Rasulullah s.a.w.: "Barangsiapa mendirikan shalat pada Lailatul Qadar kerana keyakinan dan mengharap pahala, dari Allah pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Hadits Muttafaq 'Alaih).

Malam ini terdapat pada sepuluh malam terakhir, dan diperlukan pada malam-malam ganjil lebih besar lengan berkuasa daripada di malam-malam lainnya. Kerana itu, seyogianya seorang muslim yang senantiasa mengharap rahmat Allah dan takut dari siksa-Nya, memanfaatkan kesempatan pada malam-malam itu dengan bersungguh-sungguh pada setiap malam dari kesepuluh malam tersebut dengan shalat, membaca Al-Qur'anul Karim, zikir, do'a, istighfar dan taubat yang sebenar-benarnya. Semoga Allah mendapatkan amal ibadah kita, mengampuni, merahmati, dan mengabulkan do'a kita.

5. Pada bulan ini terjadi insiden besar iaitu Perang Badar, yang pada keesokan harinya Allah membezakan antara yang haq dan yang bathil, sehingga menanglah Islam dan kaum muslimin serta hancurlah syirik dan kaum musyrikin.

6. Pada bulan suci ini terjadi pembebasan kota Makkah Al-Mukarramah, dan Allah memenangkan Rasul-Nya, sehingga masuklah insan ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong dan Rasulullah menghancurkan syirik dan paganisme (keberhalaan) yang terdapat di kota Makkah, dan Makkah pun menjadi negeri Islam.

7. Pada bulan ini pintu-pintu Syurga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup dan para syaitan diikat.

Betapa banyak berkah dan kebaikan yang terdapat dalam bulan Ramadhan. Maka kita wajib memanfaatkan kesempatan ini untuk bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan bersedekah shalih, semoga kita termasuk orang-orang yang diterima amalnya dan beruntung.
Perlu diingat, bahawa ada sebahagian orang -semoga Allah menunjukinya- mungkin berpuasa tetapi tidak shalat, atau hanya shalat pada bulan Ramadhan saja. Orang menyerupai ini tidak berkhasiat baginya puasa, haji, mahupun zakat. Kerana shalat yakni sendi agama Islam yang ia tidak sanggup tegak kecuali dengannya.

Sabda Rasulullah s.a.w.: "Jibril tiba kepadaku dan berkata, 'Wahai Muhammad, siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun sesudah bulan itu habis dan ia tidak menerima ampunan, maka bila mati ia masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan: Amin!. Aku pun mengatakan: Amin." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya) (Lihat kitab An Nasha i'hud Diniyyah, hlm. 37-39).

Maka seyogianya waktu-waktu pada bulan Ramadhan dipergunakan untuk banyak sekali amal kebaikan, menyerupai shalat, sedekah, membaca Al-Qur'an, zikir, do'a dan istighfar. Ramadhan yakni kesempatan untuk menanam bagi para hamba Ailah, untuk membersihkan hati mereka dari kerosakan.

Juga wajib menjaga anggota tubuh dari segala dosa, menyerupai berkata yang haram, melihat yang haram, mendengar yang haram, minum dan makan yang haram supaya puasanya menjadi higienis dan diterima serta orang yang berpuasa memperoleh ampunan dan pembebasan dari api Neraka.

Tentang keutamaan Ramadhan, bersabda Rasulullah s.a.w.: "Aku melihat seorang pria dari umatku terengah-engah kehausan, maka datanglah kepadanya puasa bulan Ramadhan kemudian memberinya minum hingga kenyang" (HR. At-Tirmidzi, Ad-Dailami dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir dan hadits ini hasan).

"Shalat lima waktu, shalat Jum'at ke shalat Jum 'at lainnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antaranya bila dosa-dosa besar ditinggalkan." (HR. Muslim).

Jadi hal-hal yang fardhu ini sanggup menghapuskan dosa-dosa kecil, dengan syarat dosa-dosa besar ditinggalkan. Dosa-dosa besar, iaitu perbuatan yang diancam dengan eksekusi di dunia dan siksaan di akhirat. Misalnya: zina, mencuri, minum arak, mencaci kedua orangtua, tetapkan hubungan kekeluargaan, transaksi dengan riba, mengambil risywah (wang suap), bersaksi palsu, tetapkan kasus dengan selain aturan Allah.

Seandainya tidak terdapat dalam bulan Ramadhan keutamaan-keutamaan selain keberadaannya sebagai salah satu fardhu dalam Islam, dan waktu diturunkannya Al-Qur'anul Karim, serta adanya Lailatul Qadar yang merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan- di dalamnya, pasti itu sudah cukup, Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya.


Mudah-mudahan kutipan artikel  Keistimewaan bulan Ramadhan ini bermanfaat. Amiin.
Sumber: Risalah Ramadhan Karya Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al Jarullah


= Baca Juga =







Keutamaan Puasa Ramadhan

Ramadhan telah  datang ditengah-tengah kita. Seyogyanyalah kita bangga menyambut bulan yang penuh, berkah, rahmah dan maghfirahnya ini. Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa yang bangga menghadapi bulan Ramadhan, pasti akan diharamkan oleh Allah baginya neraka". Didalam menyambut Ramadhan ini Rasullullah biasanya meningkatkan intensitas dan kualitas ibadahnya untuk melatih diri menghadapi bulannya Allah ini (Syahr Allah). Pada bulan ini disamping diwajibkan shaum (puasa) yang mana pahalanya diberikan pribadi oleh Allah (HR Bukhari dari Abu Hurairah), ibadah lainnya pun akan dilipat gandakan pahalanya. Untuk itu marilah kita bergembira menyambut bulan suci ini dengan meningkatkan ibadah kita dan tambah meningkat lagi selama Ramadhan dengan menegakkan ibadah-ibadah khusus mirip menegakkan malam Ramadhan (Qiyamullail) dsb.

Telah bersabda Rasulullah saw bersabda: " Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman, nrimo dan mengharapkan ridhoNya, pasti dosa-dosanya yang terdahulu diampuni oleh Allah swt". (HR. Ahmad dan As-Sunan).

Hadits shahih diatas sudah tidak gila lagi ditelinga kaum muslimin dimana selalu dikutip saat ramadhan sudah menjelang. Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulannya Allah, bulan suci Ramadhan. Pada bulan ini Allah melipat gandakan pahala bagi melaksanakan ibadah, khususnya ibadah puasa yang pahalanya akan diberikan pribadi oleh Allah swt. Marilah kita sambut dengan bahagia dan bangga bulan yang penuh rahmah, berkah dan maghfirahNya ini serta pada waktunya nanti kita tegakkan puasa (shaum) disiang hari dan menegakkan malamnya dengan shalat tarawih dan tahajjud serta ibadah-ibadah lainnya. Setelah itu , supaya Allah swt mendapatkan segala amal perbuatan kita dan mengampuni dosa-dosa kita yang telah kemudian dan Insya Allah juga yang akan datang.

Disampaikan oleh Abu Hurairah ra: Allah swt berfirman: "Puasa itu mirip perisai. Pada hari melaksanakan puasa, janganlah orang yang berpuasa mengucapkan kata-kata kotor, tidak sopan, dan tidak lezat didengar, dan jangan pula ribut hingar bingar bertengkar. Jika di antara kalian memaki atau mengajak berkelahi, hendaknya menyampaikan kepadanya:"Saya sedang berpuasa". Kemudian Rasulullah saw menambahkan: "Demi Allah yang diriku di dalam kekuasaan-Nya, bergotong-royong amis lisan orang berpuasa lebih wangi di sisi Allah dari amis minyak kesturi. "Dia yang telah meninggalkan makan dan minum-nya hanya mengharapkan kerido'anKu. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan alasannya ialah itu Akulah yang pribadi membalasnya dengan ganjaran untuk kebaikan yang telah dilakukannya sepuluh kali lipat. (HR Bukhari).

Sebegitu pentingnya ibadah puasa itu sehingga Allah swt menyatakan akan pribadi memperlihatkan pahala kepada yang melakukannya dan memperlihatkan pahala ibadah-ibadah yang dilakukannya berlipat ganda, tetapi tentunya puasa orang yang puasanya itu higienis dari kedurhakaan-kedurhakaan, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa bangkit (shalat/beribadah) pada malam Lailatul Qadar dengan kepercayaan dan nrimo maka diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah kemudian (HR Bukhari dan Muslim) Sungguh, kapan akan terjadinya malam kemuliaan ini ? yang terang di bulan Ramdahan, Wallahu alam..........

Tidak ada yang seorangpun tahu diam-diam Allah ini kecuali Dia. Kerahasiaan ini hendaklah menciptakan kita untuk berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita selama bulan Ramadhan yang dikatakan bulan turunnya malam kemuliaan itu, khususnya pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sebagaimana yang diidentifikasikan oleh Rasulullah saw dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, yang menyatakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada tanggal ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan" (HR Bukhari).

Oleh alasannya ialah itu  kaum muslim diajurkan  meningkatkan amal ibadah kita pada hari-hari terakhir Ramadhan ini. Rasulullah saw saja yang telah dijamin Allah saw untuk masuk ke syurganya masih selalu ulet beribadah dan pada sepuluh hari terakhir ini dia lebih mengencangkan ikat pinggangnya dan menggencarkan ibadah-ibadahnya bahkan melaksanakan 'itikaf di masjid. Dan supaya amalan-amalan yang kita lakukan pada bulan Ramadhan ini akan kita lakukan secara berketerusan (istiqomah) pada bulan-bulan lainnya diluar Ramadhan.

Sumber :

Kumpulan Materi Bahasan Ba’da Shubuh Di Masjid Al-Amru Bittaqwa Dan Milis Group Al-Amru_Bittaqwa


= Baca Juga =






Keutamaan Puasa Sya'ban Dan Malam Nisfu Sya'ban

MALAM NISFU SYA'BAN 1438 (2017)
Malam Nisfu syaban merupakan malam pertengahan di bulan sya'ban yang berdasarkan keterangan (hadist) merupakan malam penuh berkah dan malam ampunan dari allah SWT. Itulah sebabnya malam nisfu syaban merupakan salah satu malam yang istimewa dalam Islam. Semua umat islam yang berada di seluruh dunia dianjurkan untuk memperbanyak dan juga meningkatkan ibadah di bulan syaban.


Lalu kapan atau tanggal berapa Malam Nisfu Sya'ban di tahun 2017 ini. Berdasarkan kalender jatuhnya malam nisfu sya'ban tanggal 15 sya'ban 1438 bertepatan dengan tanggal 12 Mei 2017 di hari jum'at. Jangan lupa untuk berpuasa dan memperbanyak amalan. Karena tanggal 15 sya'ban 1438 (2017) bertepatan dengan tanggal 12 mei 2017 di hari jum'at, maka sebaiknya yang mau berpuasa berpuasalah semenjak kamis dan Jum’at . Bisa juga puasa di hari Jumat dan hari Sabtu. Lebih utamanya di bulan Sya'ban ini kita disunatkan puasa selama tiga hari, yakni tanggal 13 -15 Sya'ban (yang tahun ini jatuh pada hari Rabu 10 Mei 2017 hingga Jum'at 12 Mei 2017). Puasa (Shaum) tiga hari dibulan Sya'ban disebut Shaum Sunnah Ayyam Al-Bidi


Berikut ini beberapa keistimewaan Malam Nisfu Sya'ban

Mengenai bulan Sya’ban, ada hadits dari Usamah bin Zaid. Ia pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia tidak pernah melihat ia melaksanakan puasa yang lebih semangat daripada puasa Sya’ban. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- yaitu bulan di ketika insan lalai. Bulan tersebut yaitu bulan dinaikkannya banyak sekali amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh lantaran itu, saya amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir menyampaikan bahwa hadits ini hasan).

Setiap pekannya, amalan seseorang juga diangkat yaitu pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

Keutamaan Puasa Sya'ban dan  Malam Nisfu Sya'ban 

“Amalan insan dihadapkan pada setiap pekannya dua kali yaitu pada hari Senin dan hari Kamis. Setiap hamba yang beriman akan diampuni kecuali hamba yang punya permusuhan dengan sesama. Lalu dikatakan, ‘Tinggalkan mereka hingga keduanya berdamai’.” (HR. Muslim no. 2565)

Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban
Ada hadits yang menyatakan keutamaan malam nisfu Sya’ban bahwa di malam tersebut akan ada banyak pengampunan terhadap dosa. Di antaranya hadits dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda,

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ


“Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Al-Mundziri dalam At-Targhib setelah menyebutkan hadits ini, ia mengatakan, “Dikeluarkan oleh At-Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al-Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.”

Demikian perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan ia yaitu perawi yang dinilai dha’if.”

Hadits lainnya lagi yaitu hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا اِثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ


“Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam nisfu Sya’ban, Allah mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.”

Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi evaluasi negatif atau di-jarh, namun haditsnya masih dicatat).” Berarti hadits ini bermasalah.

Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, ia mengatakan, “Hadits-hadits tersebut dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang mengambarkan keutamaan malam nisfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.”

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam nisfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhaifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan ia masukkan dalam kitab shahihnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 245).

Intinya, evaluasi kebanyakan ulama (baca: jumhur ulama), keutamaan malam nisfu Sya’ban dinilai dha’if. Namun sebagian ulama menshahihkannya.


Amalan di Malam Nisfu Sya’ban
Taruhlah hadits keutamaan malam nisfu Sya’ban itu shahih, bukan berarti dikhususkan amalan khusus pada malam tersebut ibarat kumpul-kumpul di malam nisfu Sya’ban dengan shalat jama’ah atau membaca Yasin atau do’a bersama atau dengan amalan khusus lainnya.

Karena mengkhususkan amalan ibarat itu harus dengan dalil. Kalau tidak ada dalil, berarti amalan tersebut mengada-ada.

Walau sebagian ulama ada yang menganjurkan shalat di malam nisfu Sya’ban. Namun shalat tersebut cukup dilakukan seorang diri.

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam Nisfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan shalat.”

Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai shalat Nisfu Sya’ban, beliau rahimahullah menjawab, “Jika seseorang shalat pada malam nisfu sya’ban sendiri atau di jama’ah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun kalau dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melaksanakan shalat dengan bilangan tertentu, ibarat berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 raka’at, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini terang suatu kasus bid’ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 131)

Ibnu Taimiyah juga mengatakan, “Adapun wacana keutamaan malam nisfu Sya’ban terdapat beberapa hadits dan atsar, juga ada nukilan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Jika seseorang melaksanakan shalat seorang diri ketika itu, maka ini telah ada misalnya di masa kemudian dari beberapa ulama salaf. Inilah dijadikan sebagai pendukung sehingga tidak perlu diingkari.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 132)

Malam Nisfu Sya’ban sama dengan Malam Lainnya

Kalau kita biasa shalat tahajud di luar nisfu Sya’ban, nilainya tetap sama dengan shalat tahajud di malam nisfu Sya’ban.

‘Abdullah bin Al Mubarak rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nisfu Sya’ban, lantas ia pun memberi balasan pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan yaitu malam nisfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam nisfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92).

Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam nisfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang mengambarkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam banyak sekali hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam nisfu Sya’ban itu sudah termasuk pada keumuman hadits semacam itu, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29). (Lihat Fatwa Al Islam Sual wa Jawab, no. 49678)

Cukup Perbanyak Amalan Puasa di Bulan Sya’ban
Kalau mau meraih kebaikan, bisa diraih dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,


Keutamaan Puasa  di Bulan Sya'ban dan  Malam Nisfu Sya'ban

“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara tepat sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat ia berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Yang Punya Utang Puasa Ramadhan Segera Lunasi

Bagi yang punya utang puasa Ramadhan, segeralah dilunasi lantaran bulan Sya’ban yaitu bulan terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Dari Abu Salamah, ia menyampaikan bahwa ia mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,


كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ

“Aku masih mempunyai utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah bisa mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) menyampaikan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah lantaran ia sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146)

Perbanyak Pula Amalan Bacaan Al-Qur’an di Bulan Sya’ban

Salamah bin Kahil berkata,

كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ القُرَّاء

“Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan bulan membaca Al Qur’an.”

وَكَانَ عَمْرٌو بْنِ قَيْسٍ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ شَعْبَانَ أَغْلَقَ حَانَوَتَهُ وَتَفْرُغُ لِقِرَاءَةِ القُرْآنِ

‘Amr bin Qois ketika memasuki bulan Sya’ban, ia menutup tokonya dan lebih menyibukkan diri dengan Al Qur’an.

Abu Bakr Al Balkhi berkata,

شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ


“Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil.” (Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 92748)


Sumber : https://rumaysho.com/



= Baca Juga =





Ajaran Dan Pesan Rasulullah Saw Menyambut Ramadhan

Sejak bulan Sya'ban, Rasulullah menganjurkan ummatnya biar mempersiapkan diri menyambut kedatangan 'tamu mulia' berjulukan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah, terutama ibadah shaum sunah. Hal ini sebagai persiapan mental sekaligus fisik untuk menghadapi bulan yang disucikan itu.

Saat-saat menanti Ramadhan, para sahabat tak bedanya ibarat calon pengantin yang merindukan hari-hari pernikahannya. Tiada seorangpun di antara kaum Muslimin yang bersedih hati ketika menghadapi Ramadhan. Sebaliknya mereka bersuka cita dan bergembira, menyambutnya dengan penuh antusias dan semangat membara.

Merupakan tradisi di masa Rasulullah, pada ketika final bulan Sya'ban para sahabat berkumpul di masjid untuk mendengar khutbah penyambutan Ramadhan. Saat itu dimanfaatkan oleh kaum Muslimin untuk saling meminta maaf di antara mereka. Seorang sahabat kepada sahabatnya, seorang anak kepada orang tuanya, seorang adik kepada kakaknya, dan seterusnya. Mereka ingin memasuki bulan Ramadhan dengan tanpa beban dosa. Mereka ingin berada dalam suasana Ramadhan yang disucikan itu dalam keadaan suci dan bersih.


Kebiasaan Rasulullah dan para sahabatnya ini, perlu dihidupkan lagi tanpa harus mengubah tradisi yang sudah ada dan eksis hingga ketika ini. Biarlah Hari Raya Idul Fitri tetap dalam tradisinya, tapi pada final bulan Sya'ban perlu ditradisikan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan Nabi, yaitu dengan memperbanyak silaturrahim, saling meminta maaf, dan bertahniah, selain menyambutnya dengan ceramah yang dikhususkan untuk itu. Tahniah, saling mengucapkan 'selamat' yaitu kebiasaan baik yang ditadisikan Rasulullah.


Dianjurkan kepada kaum Muslimin untuk mengunjungi kaum kerabat, terutama orang renta untuk mengucapkan tahniah, memohon maaf, dan meminta nasihat menjelang Ramadhan. Jika jaraknya jauh, bisa ditempuh melalui telepon, surat pos, atau dengan cara-cara lain yang memungkinkan pesan itu hingga ke tujuan. Adalah baik jikalau kebiasaan itu dikemas secara kreatif, contohnya dengan mengirimkan kartu Ramadhan.

Adapun perihal ceramah yang diselenggarakan khusus untuk menyambut Ramadhan, Rasulullah telah memperlihatkan contohnya. Pada ketika itu sangat sempurna jikalau disampaikan perihal segala hal yang berkait pribadi dengan Ramadhan. Mulai dari janji-janji Allah terhadap mereka yang bersungguh-sungguh menjalani ibadah Ramadhan, amalan-amalan yang harus dan sunnah dikerjakan selama Ramadhan, hingga perihal tata cara menjalankan seluruh rangkaian ibadah tersebut.

Salah satu pecahan khutbah Rasulullah menyambut Ramadhan yang menggetarkan itu adalah, "Wahai ummatku, akan tiba kepadamu bulan yang mulia, bulan penuh berkah, yang pada malam itu ada malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Itulah malam di mana Tuhan memberi perintah bahwa kewajiban puasa harus dilakukan di siang hari dan Dia membuat shalat khusus (tarawih) di malam hari...." (dikutip dari khazanah.republika.co.id/

Berikut ini pesan Rasulllah Dari Buya Masoed Abidin Za Jabbar

Wahai manusia!
Sungguh telah tiba pada kalian bulan Allah (yakni Ramadhan), dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya yaitu malam-malam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kau diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan Ramadhan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan do’a-do’amu diijabah.

Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang nrimo dan hati yang suci biar Allah membim-bingmu untuk melaksanakan shaum dan membaca kitabnya.

Celakalah orang yang tidak menerima ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu kini, ketika kelaparan dan kehausan akan menjelang kau di hari kiamat.

Bersedakahlah kepada kaum fuqoro dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah mereka yang muda, hormatilah orang yang tua-tua, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jagalah lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kau memandangnya dan jagalah pendengaranmu dari apa yang tidak halal kau mendengarnya.

Kasihanilah belum dewasa yatim, pasti dikasihani oleh insan belum dewasa yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari segala dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdo’a pada waktu shalatmu, alasannya di situlah saat-saat yang paling utama, ketika Allah azza wa jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih.

Di kala Allah Ta'ala menjawab mereka yang menyeru-Nya, di kala Allah menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya, di kala Allah mengabulkan do’a mereka ketika mereka berdo’a kepada-Nya.

Wahai manusia!
Barangsiapa di antaramu memberi perbukaan (ketika tiba masanya berbuka) kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia akan diberi keampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu.

Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah tidaklah kami semua bisa berbuat demikian.”

Rasulullah meneruskan: "Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan memperlihatkan perbukaan dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan memperlihatkan seteguk air.

Wahai manusia!
Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini akan berhasil melewati sirathul mustaqim pada suatu hari ketika kaki-kaki banyak tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dipunyai tangan kanannya yakni pegawai atau pembantu-pembantunya di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia bersua dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Alllah akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturrahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan ia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa tetapkan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan tetapkan rahmat-Nya pada hari ia akan berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melaksanakan shalat sunnah di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.

Barangsiapa melaksanakan shalat fardhu, baginya ganjaran ibarat melaksanakan 70 shalat fardhu di bulan lain.

Barangsipa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangnnya pada hari ketika timbangan meringan.

Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat al-Qur’an, ganjarannya sama dengan mengkhatamkan al-Qur’an pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu nirwana dibukakan bagi-mu, maka mintalah kepada Rabbmu biar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah biar ia tidak lagi pernah menguasaimu.

Amirul Mukminin berkata: “Aku bangun dan berkata, Ya, Rasullullah apa amal yang paling utama di bulan ini? Jawab Nabi, "Ya, Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini yaitu menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah.”

= Baca Juga =







Hadist Shahih Wacana Puasa Ramadhan

Berikut ini hadist shahih perihal Puasa Ramdahan.

“Barang siapa melaksanakan puasa Ramadhan semata-mata sebab keimanan dan mencari ganjaran, pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhori dan Muslim)

“Sholat lima waktu, ibadah jum’at hingga jum’at berikutnya, ibadah Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya ialah penghapus dosa-dosa yang terjadi  diantara waktu-waktu itu asalkan dosa-dosa besar dihindari.” (HR Muslim).

"Setiap amal yang dilakukan anak adam ialah untuknya, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan hingga tujuh ratus kali lipat, - Allah Ta'ala berfirman: “ kecuali puasa, sebenarnya puasa ialah untuk-Ku dan Aku yang eksklusif membalasnya. (Dalam puasa, anak Adam) meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku.” Orang yang berpuasa mendapat dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bacin ekspresi orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi." (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sahl bin Sa’d RA bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: Sesungguhnya di nirwana ada satu pintu yang disebut Ar-Royyan. Itulah pintu yang pada hari selesai zaman dikhususkan bagi orang-orang yang puasa. Tak ada satupun orang lain masuk dari pintu itu. Ketika itu berkumandang seruan: “Mana orang-orang yang puasa?” Maka mereka pun bangun (untuk masuk dari pintu itu). Tak ada satupun orang lain yang menyertai mereka. Apabila mereka sudah masuk, pintu itu ditutup. Makara tak ada satupun orang lain yang masuk dari pintu itu. (HR Bukhori dan Muslim). 

“Barang siapa yang melaksanakan qiyam Romadon dengan penuh iman dan perhitungan, maka diampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘aliahi) 

“Sebaik-baiknya sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan’ (HR Al-Baihaqi, Alkhotib dan At-Turmudzi)

“Barangsiapa yang memberi ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa me ngurangi pahala orang yang berpuasa tersebut” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah). 

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  ketika memasuki sepuluh hari terakhir menghidupkan malam harinya, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya” (HR Bukhari dan Muslim). 

“Dari Abu Hurairah menceritakan, bahwa Nabi SAW sangat menganjurkan qiyam Ramadhan dengan tidak mewajibkannya. Kemudian Nabi SAW bersabda:”Siapa saja yang mendirikan shalat di malam Ramadhan penuh dengan keimanan dan impian maka ia diampuni dosa-dosa yang telah lampau “(Muttafaq ‘alaihi, lafazh imam Muslim dalam shahihnya: 6/40)

"Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan." (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).

"Barangsiapa melaksanakan shalat malam pada ketika Lailatul Qadar sebab iman dan mengharap pahala Allah, pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. " (Hadits Muttafaq 'Alaih)

Hadis khusus untuk perempuan yang akan mengerjakan Tarwaih di mesjid: "Jika salah seorang diantara kalian (para wanita) ingin mendatangi masjid maka janganlah menyentuh wangi wangian"   HR. Muslim. "Wanita manapun yang menggunakan wangi wangian, kemudian pergi ke masjid, maka shalatnya tidak diterima hingga ia mandi". HR. Ibnu Majah.


Barangsiapa berbuka puasa sehari tanpa ruksha (alasan yang dibenarkan) atau sakit, maka tidak akan sanggup ditebus dengan berpuasa semur hidup meskipun dia melakukannya (HR Al bukhari dan muslim)

Makanlah waktu sahur, sebenarnya makan waktu sahur mengakibatkan berkah (HR. Mustafa' alaih)

Barang siapa tidak  sanggup meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa) maka Alloh tidak membutuhkan lapar dan hausnya (HR. Al bukhari)

Rasululloh Saw menaiki mimbar untuk berkhotbah. Menginjak anak tangga pertama beliau  mengucapkan Aamin begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga.  seusai shalat para sahabat kemudian bertanya mengapa rasululloh mengucapkan Aamin, Beliau kemudian menjawab malaikat jibril tiba dan berkata "kecewa dan merugi orang yang jika namamu disebut dia tidak mengucapkan shalawat atasmu" kemudian akau berucap Aamin, kemudian malaikat berkata lagi "kecewa dan merugi yang berkesempatan hidup bersama orang tuanya tetapi dia tidak sanggup hingga masuk surga" kemudian saya menjawab Aamin, kemudian katanya lagi, "kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup di bulan ramadhan tetapi tidak terampuni dosa-dosanya" kemudian saya mengucapkan Aamin (HR Ahmad)

Dari Abi Said al-Khudri RA. Berkata,? Dulu kami beperang bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadhan. Diantara kami ada yang tetap berpuasa dan ada yang berbuka.? Mereka memandang bahwa siapa yang besar lengan berkuasa untuk tetap berpuasa, maka lebih baik. (HR Muslim)

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Siapa lupa ketika puasa kemudian dia makan atau minum, maka teruskan saja puasanya. Karena sebenarnya Allah telah memberinya makan dan minum. (HR. Jamaah)

Dari Abu Bakar (Tabi'in) ia menyampaikan bahwa Marwan Ra mengutus dirinya menemui Ummu Salamah Ra untuk bertanya perihal seseorang yang di waktu pagi dalam keadaan junub, apakah ia boleh shaum? Ummu Salamah menjawab: Rasulullah SAW pernah di waktu pagi dalam keadaan junub sesudah berjima? bukan berihtilam, kemudian dia tidak berbuka (tetap melanjutkan shaumnya) dan juga tidak mengqodonya? (HR. Muslim 2/780).


Abu Hurairah Radiallahuanhu, "Ketika kami duduk bersama Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam telah tiba seorang lelaki kepada Baginda kemudian berkata : "Binasalah aku!" Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda : "Kenapa dengan engkau?" Lelaki itu menjawab : "Aku telah menyetubuhi isteriku sedang saya berpuasa (Ramadan)." Lalu Nabi bersabda : "Adakah engkau berdaya memerdekakan seorang hamba?" Lelaki itu menjawab : "Tidak". Lalu bersabda Nabi: "Adakah engkau berupaya menunaikan puasa dua bulan berturut2 ? Lelaki itu menjawab : "Tidak." Bersabda Nabi : "Adakah engkau berdaya memberi makan enam puluh orang miskin?" Lelaki itu menjawab : "Tidak." (Abu Hurairah) berkata : "Ketika kami duduk telah dibawakan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan serumpun tamar. "Lalu Baginda bersabda: Ambil (tamar) ini dan sedekahkan ...." (Hadis riwayat Al-Bukhari).

= Baca Juga =






<

Petunjuk Nabi Saw Wacana Merayakan Hari Raya Idul Fitri

Hari raya yakni ketika berbahagia dan bersuka cita. Kebahagiaan dan kegembiraan kaum mukminin di dunia yakni alasannya yakni Tuhannya, yaitu apabila mereka berhasil menyempurnakan ibadahnya dan memperoleh pahala amalnya dengan keyakinan terhadap janji-Nya kepada mereka untuk mendapat anugerah dan ampunan-Nya.


Di dunia ini kaum mukminin mempunyai tiga hari Raya: hari Raya yang selalu tiba setiap minggu dan dua hari Raya yang masing-masing tiba sekali dalam setiap tahun. Adapun hari Raya yang selalu tiba tiap minggu yakni hari Jum'at, ia merupakan hari Raya mingguan, terselenggara sebagai perhiasan (penyempurna) bagi shalat wajib lima kali yang merupakan rukun utama agama islam setelah dua kalimat syahadat.

Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam tiba di Madinah, kaum Anshar mempunyai dua hari istimewa, mereka bermain-main di dalamnya, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Allah telah memberi ganti bagi kalian dua hari yang jauh lebih baik, (yaitu) 'Idul fitri dan 'Idul Adha (HR. Abu Daud dan An-Nasa'i dengan sanad hasan).

Hadits ini memberikan bahwa menampakkan rasa suka cita di hari Raya yakni sunnah dan disyari'atkan. Maka diperkenankan memperluas hari Raya tersebut secara menyeluruh kepada segenap kerabat dengan banyak sekali hal yang tidak diharamkan yang dapat mendatangkan kesejukan tubuh dan melegakan jiwa, tetapi tidak menjadikannya lupa untuk ta'at kepada Allah.


Pada ketika hari Raya 'Idul Fitri, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengenakan pakaian terbaiknya dan makan kurma -dengan bilangan ganjil tiga, lima atau tujuh- sebelum pergi melaksanakan shalat 'Id. Tetapi pada 'Idul Adha ia tidak makan terlebih dahulu hingga ia pulang, setelah itu gres memakan sebagian daging hewan sembelihannya.

Beliau mengakhirkan shalat 'Idul Fitri biar kaum muslimin mempunyai kesempatan untuk membagikan zakat fitrahnya, dan mempercepat pelaksanaan shalat 'Idul Adha supaya kaum muslimin dapat segera menyembelih hewan kurbannya.

Mengenai hal tersebut, Allah Ta 'ala berfirman : "Maka dirikanlah shalat alasannya yakni Tuhanmu dan berkorbanlah" (Al Kautsar: 2).

Ibnu Umar, sungguh dalam mengikuti sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak keluar untuk shalat 'Id kecuali setelah terbit matahari, dan dari rumah hingga ke daerah shalat ia senantiasa bertakbir.

Nabi shallallahu blaihi wasallam melaksanakan shalat' Id terlebih dahulu gres berkhutbah, dan ia shalat dua raka'at· Pada rakaat pertama ia bertakbir 7 kali berturut-turut dengan Takbiratul Ihram, dan berhenti sebentar di antara tiap takbir. Beliau tidak mengajarkan dzikir tertentu yang dibaca ketika itu. Hanya saja ada riwayat dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu, ia berkata : "Dia membaca hamdalah dan memuji Allah Ta 'ala serta membaca shalawat.

Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Umar mengangkat kedua tangannya pada setiap bertakbir.

Sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam setelah bertakbir membaca surat Al-Fatihah dan "Qaf" pada raka'at pertama serta surat "Al-Qamar" di raka'at kedua.

Kadang-kadang ia membaca surat "Al-A'la" pada raka'at pertama dan "Al-Ghasyiyah" pada raka'at kedua. Kemudian ia bertakbir kemudian ruku' dilanjutkan takbir 5 kali pada raka'at kedua lain membaca Al-Fatihah dan surat. Setelah selesai ia menghadap ke arah jamaah, sedang mereka tetap duduk di shaf masing-masing, kemudian ia memberikan khutbah yang berisi wejangan, tawaran dan larangan.


Beliau (Nabi shallallahu wasalam)  selalu melalui jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang (dari shalat) 'Id.' Juga Beliau selalu mandi sebelum shalat 'Id.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa memulai setiap khutbahnya dengan  hamdalah, dan bersabda : "Setiap perkara yang tidak dimulai dengan hamdalah, maka ia terputus (dari berkah)." (HR.Ahmad dan lainnya).

Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, ia berkata : "Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menunaikan shalat 'Id dua raka'at tanpa disertai shalat yang lain baik sebelumnya  ataupun sesudahnya." (HR. Al Bukhari dan Muslim dan yang lain).

Hadits ini memberikan bahwa shalat 'Id itu hanya dua raka'at, demikian pula mengisyaratkan tidak disyari'atkan shalat sunnah yang lain, baik sebelum atau sesudahnya. Allah Mahatahu segala sesuatu, shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, seluruh anggota keluarga dan segenap sahabatnya.

Adapun kebiasaan yang dilakukan kebanyakan orang di ketika hari Raya dengan berduyun-duyun pergi memenuhi banyak sekali daerah hiburan dan permainan yakni tidak dibenarkan, alasannya yakni hal itu tidak sesuai dengan yang disyari'atkan bagi mereka menyerupai melaksanakan dzikir kepada Allah. Hari Raya tidak identik dengan hiburan, permainan dan penghambur-hamburan (harta), tetapi hari Raya yakni untuk berdzikir kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Makanya Allah gantikan bagi umat ini dua buah hari Raya yang sarat dengan hiburan dan permainan dengan dua buah Hari Raya yang penuh dzikir, syukur dan ampunan.


Dikutip dari Tuntunan Ibadah Di Bulan Ramadhan karya  Syaikh Muhammad Ibn Jaarullah Al Jaarullah



= Baca Juga =